Kemenangan di Hong Kong: Pekerja Migran Memenangkan Banding dari Luar Negeri Terkait Bantuan Hukum

Justice Without Borders dan mitra hukumnya, Dechert LLP memenangkan gugatan Banding di Pengadilan Hukum dan memastikan seorang pekerja migran yang telah kembali ke Filipina mendapatkan bantuan hukum yang dibutuhkan. Kemenangan ini memastikan bahwa pekerja tersebut sekarang dapat melanjutkan tuntutan terhadap majikannya, dari luar negeri.

Anna*, adalah pekerja migran dari Filipina yang bekerja di Hong Kong. Mengetahui, ia kemungkinan mengalami pemecatan yang tidak adil, Anna kemudian menuntut kompensasi kepada majikannya, dan kesempatan untuk menghapus pemecatan dari rekam jejak pekerjaanya. Kasus Anna tidak berjalan mulus. Kasusnya tidak hanya berhenti di Pengadilan Perburuhan, dan berkembang untuk masuk ke dalam sistem pengadilan Hong Kong.

Ketika Pekerja Migran Membutuhkan Bantuan Hukum Lokal

Kasus Anna, adalah satu dari sekian banyak kasus yang dialami pekerja migran di Hong Kong yang gagal mendapatkan bantuan hukum. Setelah kembali ke Filipina, Anna dihadapkan pada kondisi dimana orang tua dan anak-anaknya mencegahnya kembali ke Hong Kong. Pengadilan Ketenagakerjaan Hong Kong telah menolak permohonannya untuk menggunakan Video untuk kesaksian, dan Anna memutuskan untuk mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi. Tanpa bantuan hukum untuk membayar biaya pengadilan yang akan datang, kasusnya sudah hampir pasti tidak mungkin berlanjut.

DALAM SOROTAN: APAKAH JUMLAH KLAIM ATAU HUKUM YANG MENDASARI BANTUAN HUKUM?

Direktur dari Departemen Bantuan Hukum menolak permohonan Anna, dengan alasan tuntutan kompensasi terlalu kecil untuk dapat menjustifikasi bantuan hukum, mengingat adanya biaya pengadilan yang mungkin muncul, sesuai dengan Legal Aid Ordinance (Cap. 91)  s.10(3)(c).

Untungnya, petugas pada sidang banding berpihak pada Anna, dan berkesimpulan bahwa biaya tidaklah cukup menjadi satu-satunya alasan apaah pengaju dapat menerima bantuan hukum. Situasi Anna saat ini, peluang adanya catatan kerja yang tidak tercela dan akses atas keadilan juga faktor penting yang harus dipertimbangkan.

Pengadilan juga menyetujui saran dari pengaju banding bahwa Direktur Departemen Bantuan Hukum dapat menggunakan diskresinya untuk membebaskan pengaju banding untuk membayar kembali bantuan hukum jika dia memenangkan kasusnya di pengadilan. Keputusan ini berdampak signifikan pada jumlah kompensasi yang mungkin diterima Anna dikemudian hari.

Bagi Anna, tentu saja, tuntutan tersebut tidaklah kecil. Paling tidak, jumlah tuntutan seluruhnya senilai dengan enam bulan pendapatan keluarganya di Filipina.

KASUS BERLANJUT, NAMUN PRESEDEN MENAWARKAN HARAPAN BARU BAGI PEKERJA LAINNYA

Selain kemenangan, memastikan bantua hukum hanyalah satu langkah dalam penyelesaian kasus Anna. Saat ini, Anna menghadapi sidang lain di Pengadilan Tinggi terkait dengan permohonan bandingnya untuk diijinkan hadir dalam sidang di Pengadilan Ketenagakerjaan melalui konferensi Video. Hasil dari sidang banding ini akan menentukan apakah Anna dapat maju terus dengan tuntutannya.

Meski demikian, bagi pekerja lainnya, keberhasilan banding ini menawarkan harapan baru, Ada banyak diantara pekerja migran yang harus pulang ke kampung halaman sebelum melaporkan kasusnya, dan akses atas bantuan hukum setelah mereka meninggalkan Hong Kong dapat membuat perbedaan dalam mendapatkan kompensasi yang adil. Harapannya, di masa yang akan dating, para pengaju dapat mengajukan permohonannya, dan mereka dengan klaim yang valid dapat dengan mudah melakukan penuntutan meski setelah mereka pulang ke kampung halaman.

Kasus ini dirujuk kepada JWB oleh HELP for Domestic Workers. Dukungan pada saat persidangan di Labour Tribunal disediakan oleh Hong Kong Confederation of Trade Unions  (HKCTU) and Dechert LLP. Dukungan kepada klien di Filipina di sediakan oleh International Pro Bono Alliance (IPBA).

*Nama telah disamarkan untuk melindungi identitasnya.